AFIA INDONESIA

Penerbit Literatur Kedokteran Islam

Jejak Rumah Sakit Islam dan Ilmuwan Terdahulu

Sebagai pelaku utama puncak peradaban dunia, Islam telah menorehkan begitu banyak warisan kepada umat manusia. Ilmu kedokteran adalah satu dari sekian banyak warisan berharga yang telah diwariskan oleh umat Islam kepada dunia.

Pembeda utama ilmuwan muslim dengan lainnya adalah, mereka konsisten menyandarkan pijakan utama kepada al-Qur’an dan sunnah dalam mengembangkan ilmu-ilmu kedokteran mereka. Dan hal itu menjadi andalan hingga mencapai puncak keemasan peradaban di dunia medis. Dalam mengembangkan ilmu kedokteran, para ilmuwan tak bekerja sendirian. Mereka bekerja memang tak sendiri. Kolaborasi harmonis dengan sang khalifah sebagai pemegang tampuk kekuasaan agaknya menjadi kunci sukses.

Diawali dengan gerakan penterjemahan besar-besaran berbagai literatur kedokteran dari bangsa-bangsa lain utamanya Yunani ke dalam bahasa Arab ( abad ke-7 hingga ke-8 Masehi ), pada abad-abad selanjutnya, dunia kedokteran Islam begitu pesat berkembang. Jauh meninggalkan bangsa-bangsa lain yang masih terpuruk dengan segala doktrin kebodohannya.

Adalah al-Ma’mun seorang khalifah dari Dinasti Abbasiyah yang sangat berperan dalam gerakan terjemah tersebut. Selain memberikan dorongan moril, khalifah tak segan-segan menawarkan bayaran yang tinggi kepada para mutarjim (penerjemah) saat itu. Hasilnya, mereka saling berlomba-lomba menerjemahkan berbagai karya-karya kuno dan literatur penting lainnya ke dalam bahasa Arab.

Puncak masa keemasan terjadi pada abad 9 hingga 13 M. Dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah Rumah sakit nan megah berdiri di berbagai wilayah kaum muslimin. Pada masa tersebut, rumah sakit berperan ganda. Ia tak hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati pasien sakit, tapi juga sebagai media para dokter muslim bertukar wawasan dan menimba ilmu pengetahuan. Cikal bakal rumah sakit sendiri telah ada sejak masa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam di Madinah.

Dalam berbagai peperangan, Rasulullah selalu membawa pasukan khusus yang berperan sebagai tim medis. Mereka telah menyiapkan berbagai peralatan dan perbekalan medis yang diangkut oleh beberapa onta. Bak klinik berjalan, tim medis ini bertugas merawat dan mengobati tentara muslim yang terluka dalam peperangan. Mereka berpindah-pindah dari satu kancah peperangan ke kancah lain.

Dalam sejarah tercatat, rumah sakit pertama yang dibangun kaum muslimin berdiri di kota Damaskus, Syiria pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid (706 M) dari Dinasti Umayyah. Seiring waktu berjalan, rumah sakit tersebut dinamai an-Nuri. Diambil dari nama Khalifah Nuruddin Zanki. Seorang pahlawan Islam dalam sejarah Perang Salib. Dengan segala kemajuannya, rumah sakit Islam an-Nuri telah menerapkan rekam medis (medical record). Sebuah terobosan awal yang sangat langka pada masa tersebut. Rumah sakit an-Nuri juga berperan sebagai sekolah kedokteran. Sederet ilmuwan ternama, sebagai alumni almamater an-Nuri diantanya adalah Ibn an-Nafis (1208-1288 M), sang penemu teori sirkulasi paru-paru. Salah satu karyanya yang sangat terkenal adalah Mujaz al-Qanun.

Di kota Baghdad berdiri sejumlah rumah sakit besar. Diantaranya, rumah sakit Baghdad pada masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid. Rumah sakit ini dikepalai langsung oleh ar-Razi (841-926 M), seorang dokter spesialis peyakit dalam. Oleh barat, ia mendapat sebutan Razes. Pemilik nama lengkap Abu Bakar Mohammad Ibn Zakaria ar-Razi ini juga menjabat dokter pribadi khalifah. Berbagai karya monumental lahir lewat tangannya. Diantaranya berjudul al-Mansuri (Liber al- Mansofis), al-Murshid (tentang pengobatan berbagai penyakit), dan al-Hawi yang terdiri dari 22 volume.

Rumah sakit lainnya di Baghdad adalah al-Adudi (982 M). Nama bangunan tersebut diambil dari nama Khalifah Adud ad-Daulah. Al-Adudi adalah bangunan termegah dan terlengkap peralatannya pada masanya. Kisah menarik seputar pendirian rumah sakit ini adalah apa yang dilakukan Abu Bakar ar-Razi, sang konsultan rumah sakit. Beliau mengawali studi kelayakan dengan meletakkan potongan daging yang digantung di beberapa tempat di wilayah sekitar sungai Tigris, sebuah pendekatan bio sistem. Hasilnya adalah ditemukannya sebuah lokasi yang layak, hal itu ditandai dengan lamanya daging yang digantung membusuk sehingga memberi keyakinan bahwa lokasi tersebut layak didirikan rumah sakit. Rumah sakit al-Adudi ini kemudian berkembang  dan terkenal denga manajemen perawatan yang tertata rapi. Sayang, kini ia tinggal kenangan. Bangunannya hancur pada masa invasi tentara Tartar pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad (1258 M).

Tak cuma Baghdad , di beberapa wilayah lainnya, ilmu kedokteran Islam juga terus mengalami perkembangan. Di Mesir misalnya, tepatnya di kota al-Fustat (sekarang Kairo), Ahmad ibn Tulun membangun rumah sakit al-Fusta (872 M). Rumah sakit ini dilengkapi dengan perpustakaan yang kaya akan literatur medis. Di Tunisia, berdiri bangunan megah bernama rumah sakit al-Qairawan (830 M) di wilayah kota ad-Dimnah. Rumah sakit ini bahkan sudah menerapkan sekat pemisah antara ruang tunggu pengunjung dan pasien. Bangunan rumah sakit yang lain bisa kita jumpai di Maroko. Di sana Khalifah al-Manshur Ya’qub ibn Yusuf mendirikan rumah sakit Marakesh. Arsitektur yang indah menjadi daya tarik tersendiri bangunan ini. Sebab ia dihiasi taman bunga dan penuh dengan pohon buah-buahan. Di kota lainnya, Granada juga berdiri bangunan rumah sakit Granada (1366 M). Di kota Yerussalem, berdiri sebuah rumah sakit bernama as-Sahalani (1055 M). Oleh Panglima Shalahuddin al-Ayyubi nama rumah sakit ini berganti menjadi as- Salahani Hospital . Sebelumnya ia pernah bernama rumah sakit Saint pada era pasukan Salibis berkuasa. Di tangan Shalahuddin, rumah sakit ini mengalami perluasan dan pembenahan hingga akhirnya bangunan rumah sakit lantak terkena gempa bumi kala itu (1458 M).

Lengkapnya sarana dan prasarana kedokteran merangsang para ilmuwan terus berprestasi di bidangnya masing-masing. Hasilnya, sejumlah tokoh kedokteran muslim bersinar dengan keahlian dan spesialis yang berbeda-beda. Diantara mereka muncul Judis ibn Bahtishu, dekan sekolah kedokteran di Baghdad, Ibn Maimun, Abu Bakar ar-Razi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan az-Zahrawi atau Abulcasis (930-1013 M), seorang dokter gigi dan ahli bedah terkemuka di Arab. Alumnus Universitas Cordoba ini juga menjabat dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Tokoh kedokteran lainnya adalah Ibn an-Nafis, kepala rumah sakit al-Manshuri di Kairo, Ibnu Wafid Al-Lakhm, dokter terkemuka di Andalusia, Ibnu Tufail (1100-1185 M), dan al-Ghafiqi, seorang tabib kolektor tumbuh-tumbuhan herbal dari Spanyol dan Afrika.

Ibnu Sina atau lebih terkenal dengan sebutan Avicenna (980-1037 M) ini mulai meroket ketika ia membukukan berbagai teori dan penelitiannya di bidang medis. Salah satu karya fenomenalnya adalah al-Qanon fi at- Thib atau Canon of Medicine. Sebuah karya yang menjadi rujukan utama sekolah-sekolah kedokteran di Eropa hingga abad 17. Kitab tersebut berisi ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang yang mencapai satu juta kata! Legenda medis lainnya adalah Ibnu Rusyd atau Averroes (1126-1198 M). Setara dengan Ibnu Sina, kontribusi Ibnu Rusyd dalam bidang kedokteran tak sebatas dalam lingkup umat Islam semata. Bahkan karya-karyanya telah merambah hingga belahan benua Eropa. Diantara karyanya berjudul al-Kulliyat fi at- Thibb (Colliyet). Buku tersebut memuat rangkuman ragam ilmu kedokteran. Buku lainnya berjudul at-Taisir. Sayang, kilau ilmu pengetahuan yang pernah memancar dari peradaban Islam meredup perlahan. Pasca abad 13 M, ilmu kedokteran yang berkembang lewat pakar-pakar muslim mengalami stagnan.

Beberapa bangunan fisik rumah sakit dan perpustakaan masih berdiri hingga kini. Namun ia tak sanggup lagi memancarkan sinar kemilau. Bahkan cahayanya kian redup seiring kemunduran umat Islam pada masa itu.

Sudah saatnya bila di era belakangan ini, semangat penggalian, penelitian dan pengembangan kedokteran berbasis Islam kembali menggejala. Semoga fenomena  kesadaran ini berlanjut dan sanggup memberikan pencerahan dalam dunia medis berbasis Qur’an dan Hadist sebagaimana telah lama dicontohkan oleh Nabi Saw dalam praktik Thibbun Nabawi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 27, 2012 by in Sejarah and tagged , , , .

Navigation

Katagori

Arsip

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1 other follower

%d bloggers like this: